Masjid tidak hanya berdiri dari dinding dan lantai, tetapi dari niat ikhlas orang-orang yang merawatnya. Di Masjid Al-Istiqlal Desa Botumoputi, ketulusan itu tampak nyata melalui sosok Ketua Takmirul Masjid, Mohammad Isnain Umar, dalam sebuah pekerjaan yang nyaris luput dari perhatian.
Di bagian dapur masjid, terdapat ruang sempit di bawah tatakan gelas permanen gelap, rendah, dan sulit dijangkau. Pekerjaan pemasangan plin keramik di area tersebut sempat terhenti, bukan karena kelalaian, melainkan karena keterbatasan ruang yang tidak memungkinkan tukang profesional menyelesaikannya.
Situasi itu tidak dibiarkan berlarut. Dengan kesadaran bahwa kebersihan dan kerapian dapur masjid adalah bagian dari adab memuliakan rumah Allah, Mohammad Isnain Umar memilih turun tangan. Ia masuk ke ruang sempit itu, merebahkan tubuh di atas lantai, dan menyalakan lampu kepala sebagai satu-satunya penerang.
Dalam sunyi, tanpa sorotan, satu per satu kepingan keramik dipasang dengan penuh kehati-hatian. Tidak ada kata lelah yang diucapkan, sebab pekerjaan itu diniatkan sebagai ibadah. Setiap sentuhan tangan menjadi bentuk tanggung jawab, setiap tetes keringat bernilai pengabdian.
Apa yang dilakukan Ketua Takmirul Masjid Al-Istiqlal tersebut mengajarkan makna kepemimpinan dalam Islam: mendahulukan teladan sebelum perintah, bekerja sebelum meminta, dan melayani sebelum dilayani. Dari sudut kecil dapur masjid, lahir pelajaran besar tentang keikhlasan dan cinta pada rumah Allah.


0 Komentar